Langsung ke konten utama

Cephalosporin lebih efektif dibandingkan penisilin dan amoxicilin untuk terapi infeksi streptokokus di tenggorokan

Hasil presentasi beberapa dokter di US menyebutkan bahwa saat ini banyak antibiotik lama seperti penisilin dan amoksisilin sudah kurang efektif dalam mengatasi infeksi di tenggorokan, dan penggunaan sefalosporin ternyata menunjukkan hasil yang lebih baik.

Ditemukan banyak keluhan dalam penggunaan obat untuk mengatasi infeksi kuman jenis streptokokus, bakteri yang menyebabkan infeksi di tenggorokan pada jutaan anak di US setiap tahunnya. Tampaknya obat-obatan tersebut tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak memiliki efektifitas sekuat obat antibiotik jenis yang lebih baru yaitu cephalosporin. Kesimpulan dari presentasi yang disampaikan dalam pertemuan tahunan penyakit infeksi, the annual Interscience Conference an Antimicrobial Agent and Chemotherapy di Washington, para dokter menyebutkan terapi yang diberikan terhadap 11.426 anak-anak menunjukkan bahwa obat antibiotik generasi baru lebih efektif dibandingkan obat antibiotik jenis lama.

Dokter spesialis anak dari University of Rochester Medical Center menjelaskan bahwa 25% anak-anak dengan infeksi tenggorokan yang diterapi dengan penisilin, setelah 3 minggu diberi terapi, kembali ke dokter lagi, anak yang diterapi dengan amoxicilin 18% kembali setelah beberapa minggu, sekitar 14% yang diberi cephalosporin generasi yang lebih lama kembali dan hanya 7% mereka yang diterapi dengan cephalosporin generasi yang lebih baru yang kembali. Sebagian dari mereka yang diterapi dengan cephalosporin setelah 4 atau 5 hari menunjukkan hasil yang baik.

Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr. Michael Pichichero, M.D dan Janet Casey, M.D mendukung pendapat sebelumnya, bahwa banyak anak-anak yang menerima obat antibiotik jenis penisilin dan amoksisilin mengalami 'relapse', bahkan memperpanjang kondisi sakit sehingga menganjurkan dokter untuk merubah pemberian obat.

Pichichero mengatakan, selama ini banyak dokter yang meresepkan obat yang ternyata tidak efektif menyembuhkan penyakit. Hasil penelitian menyebutkan sekitar 60 sampai 80% anak-anak yang diterapi kuman streptokokusnya menggunakan amoxicilin, 10 sampai 20% menggunakan penicilin dan hanya 10 sampai 20% yang menggunakan cephalosporin.

Ternyata kegagalan menggunakan obat antibiotik jenis lama sangat tinggi, Pichichero, seorang profesor di bidang imunologi dan mikrobiologi menjelaskan.

Paradigma terapi untuk mengatasi infeksi tenggorokan akibat streptokokus lambat laun mengalami perubahan, dan saat ini penggunaan cephalosporin merupakan terapi lini pertama yang sangat dibutuhkan untuk kondisi infeksi tenggorokan akibat kuman streptokokus, Pichichero mengatakan.

Cephalosporin generasi terbaru memiliki harga yang mahal, sedangkan generasi yang lebih lama seperti cephalexin memiliki harga yang hampir sama dengan penicilin dan amoxicilin namun memiliki efektifitas yang lebih baik untuk melawan kuman streptokokus.

Hasil temuan terbaru yang dilakukan bagian pediatri oleh Pichichero dan Casey menjelaskan bahwa dokter harus lebih perhatian dengan keefektifitasan obat penisilin dan amoksisilin. Hasil penelitian metaanalisis terhadap 47 studi yang dilakukan selama 35 tahun terhadap efektifitas berbagai jenis antibiotik untuk terapi streptokokus pada anak. Obat Sefalosporin generasi terbaru menunjukkan hasil yang lebih efektif dibandingkan obat jenis lainnya, diikuti dengan cephalosporin generasi lama, sedangkan penicilin tidak terlalu menunjukkan hasil yang baik.

Hasil temuan ini tidak saja penting untuk menangani kasus infeksi streptokokus paada anak-anak, tetapi juga bagi orang dewasa. Pichichero mengatakan anak-anak dan orang tua tampaknya lebih patuh menggunakan obat dalam waktu 4 atau 5 hari dibandingkan harus minum obat selama 10 hari. Ia mencatat sekitar 30 sampai 70% orang tua membuat kesalahan dalam hal pemberian obat antibiotik kepada anaknya, atau mereka memberikan kelebihan dari dosis yang dianjurkan, namun yang lebih sering adalah  obat tidak diberikan lagi saat kondisi kesehatan anaknya sudah sehat, sehingga sangat penting mencantumkan lebel yang menjelaskan bahwa obat tersebut harus diminum sampai habis.

Dunia Farmasi: Blog/Web yang mengomentari tulisan ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IONI mobile layanan Informasi Obat yang Inovatif dari PIONAS BPOM

Sesudah sekian lama tidak mengisi blog dunia farmasi, sudah waktunya, memulai lagi tulisan seputar dunia farmasi dan kesehatan. Kita mulai dengan hasil pertemuan saya diundang Pusat Informasi Obat (PIONAS) BPOM, 28 November 2014 dalam rangka soft launching IONI (Infomatorium Obat Nasional Indonesia). Ada yang tahu dan pernah pake buku IONI sebagai referensi terpercaya dan independen mengenai obat yang beredar di Indonesia ? Hmmm...kalau banyak yang belum saya ulas sedikit dan nanti sy kasih pranala (link) untuk unduh aplikasi mobile nya yang merupakan terobosan baru PIONAS BPOM dalam upaya meningkatkan akses informasi terstandar,  demikian menurut ibu Dra. Rita Endang, Apt, MKes sebagai Plt. Kepala Pusat Informasi Obat dan Makanan BPOM. Menurut ibu Rita, pengembangan aplikasi IONI melalui aplikasi mobile yang sesuai kebutuhan profesi kesehatan, khususnya Apoteker, sangat mendukung bidang Informasi Obat dan Makanan PIOM dalam melaksanakan layanan informasi obat sejalan d...

Perang Retail Apotek di Amerika : Era Akuisisi, Merger, dan Kerugian

Semua merger dan akuisisi farmasi baru-baru ini yang telah terjadi dalam 5 tahun terakhir saja antara 3 tiga apotek rantai telah membuat ini layak untuk dirangkum. CVS Health telah mengalami perubahan portofolio yang cukup besar, dengan mengubah namanya berkali-kali dalam dekade terakhir, dari CVS ke CVS / Caremark, hingga sekarang CVS Health. Merefleksikan bahwa penekanan pada kesehatan, CVS telah menginvestasikan akuisisi ke dalam beberapa bisnis yang menarik. Mereka pindah ke apotek Target, dan mereka membeli Omnicare untuk masuk ke pasar LTC. Tapi mereka juga mencari Aetna, yang jika dimainkan, akan menjadi pengganggu signifikan di bidang ini, menggabungkan apotek, PBM, dan perusahaan manajemen perawatan kesehatan di bawah satu bisnis. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang berpikir itu bisa menjadi kemenangan besar bagi pasien atau berpotensi pengembangan yang memprihatinkan, tergantung pada bagaimana segala sesuatunya berjalan. Walgreens telah mengambil model yang berb...

Penggunaan Barkode 2D atau Serialisasi Obat dan Makanan di Indonesia dan di Dunia

Apakah serialisasi itu? serialisasi dalam farmasi adalah penandaan kemasan obat (bisa kemas primer,  sekunder atau tersier) menggunakan kode penandaan (bisa QR code/2D matrix) dimana kode penandaan tersebut terhubung dengan database dari regulator (dalam hal ini BPOM ). Berbeda dengan penandaan biasa (barcode/ penandaan inkjet printer biasa) pada serialisasi penadaan terhubung dengan database obat BPOM dan informasi penandaan lengkap bisa dibaca oleh konsumen dengan scanner (Android/iPhone/alat scan). Penandaan serialisasi ini terintegrasi dengan informasi kemasan primer, sekunder bahkan tersier. Guna serialisasi ini salah satunya adalah mencegah pemalsuan obat. Salah satu perusahaan yang sudah mengaplikasikan serialisasi (QR Code) adalah PT Kimia Farma. PT Kimia Farma baru memulai penggunaan serialisasi pada kemasan obat botol. PT Kimia Farma menggunakan aplikasi Lacaq.  yang bisa didownload di Play Store.  Pengalaman implementasi di Kimia Farma. Implementasi, s...